Senin, 21 Agustus 2017

Upacara di Istana Negara (Lain)

Mumpung masih Agustus, mumpung masih deket-deket 17an, jadi inget pengalaman tahun lalu upacara di istana negara lain.

Yupz! 17 Agustus 2016 yang lalu gue dan sobat terlama gue menundang diri kami sendiri untuk ikut upacara pergantian penjaga di istana nenek buyutnya Prince George, Buckingham Palace. Berdasarkan berbagai informasi yang kami dapatkan, para peserta upacara disarankan untuk hadir paling lambat 2 jam sebelum acara dimulai mengingat padatnya kerumunan. So kalau kalian tiba 1 jam sebelumnya, jangan harap bisa ngeliat pasukan bertopi tingi berseragam merah itu secara utuh. 

Kami sampai di halaman istana tepat 2 jam sebelum upacara pergantian penjaga, dan saat kami sampai di sana kerumunan orang sudah mirip penonton konser. Untungnya karena terlahir sebagai orang Indonesia yang ukurannya lebih kecil mungil dari orang-orang Eropa, kami berhasil memposisikan diri di baris ke 3 dari gerbang tepat di belakang sekumpulan gank cewek-cewek korea, dan diapit ibu-ibu Spanyol dan om-om Italia. Hasilnya kami enggak bisa liat apa-apa ha!

Menunggu 2 jam sambil berdiri, pastinya kami enggak hanya mematung tapi ngobrol ngalor ngidul sambil goyang-goyang. Sayangnya si ibu di samping kami ternyata galak setengah mati. Bergesert sedikiiit aja, condong ke arah doi, kami diteriakin karena beliau enggak terima areanya diinvasi berhubung udah di sana sejak 1 jam sebelum kami. Oke... oke... mungkin sebaiknya gue menunggu sambil baca buku, ngikutin gayanya wanita-wanita korea di depan kami. Saat akhirnya iring-iringan penjaga tiba, semua orang berebut untuk ambil foto dan video. Wanita-wanita korea yang dapet posisi paling yahud, tepat di depan gerbang, langsung sibuk selfie. Sontak semua orang teriak-teriak karena pemandangannya diganggu ;p Gue yang stuck di tengah kerumunan tanpa pikir panjang langsung narik tangan cowok jepang solo traveler yang entah sejak kapan berdiri deket kami dan menyerahkan Shikadai (kamera DSLR pinjeman dari adek gue) sambil teriak, "Would you please take one picture for me?!" Alhasil mas ganteng itu benong ngeliatin gue sementara gue cuma teriak-teriak, "Just one picture! one picture!" 

Konser gratis di upacara pergantian penjaga 

Tapi yang bikin gue tersentuh adalah wanita-wanita korea di barisan depan. Setelah puas ambil foto dia berbalik dan menawarkan diri untuk mengambilkan foto buat traveler lain yang enggak seberuntung mereka. Terimakasih ke teman-teman dari korea tersebut, kami berhasil mengabadikan momen upacara di istana Buckingham. Ah... sesama traveler memang harus saling bantu membantu, dan bukannya memang itulah hal paling penting dalam proses traveling? saat kita bertemu orang asing yang rela saling membantu?


Senin, 10 Juli 2017

(Akhirnya) Ke Jepang Juga

Negara mana yang ada di benak mu saat pertama kali terbersit niat untuk memiliki buku hijau kecil bernama paspor?

For me it's Japan.

Dari sejak belum kepikiran untuk bikin paspor, dari sejak (akhirnya) ikut-ikutan bikin paspor, dari sejak punya paspor warna lain, sampai akhirnya si paspor hijau kadaluarsa. Cita-cita gue cap pertama di paspor adalah Jepang. Dan ajaibnya kesampaian. Cap pertama, di paspor hijau ke dua, Jepang.

Itinerary Ambisius
Setelah tiket ada di dalam genggaman, tentunya tahap selanjutnya para traveler adalah membuat itinerary. Demikian juga dengan kami. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam di salah satu kafe yang pasti dikenal siapa saja, terciptalah beberapa lembar excel rencana perjalanan kami. Hampir semua orang yang membacanya bilang itu adalah itinerary ambisius. 3 hari di Tokyo, 3 hari di Kyoto, 2 1/2 hari di Osaka, dan 1/2 hari di Nara. Ha! 

Pertama kali kaki kami menginjak Jepang adalah lantainya terminal 1Narita. Dengan semangat kami membeli tiket bus menuju ke Tokyo Station. Apartemen pertama kami menuliskan Shinjuku-ku di alamatnya, ternyata tepatnya adalah di Ochaiminaminagasaki yang masih berstasiun-stasiun jauhnya dari JR Shinjuku Station. So... dari Tokyo Station kami mengikuti arus manusia mengejar kereta Yamanote menuju ke Shinjuku, dilanjut menyeret-nyeret koper ke Oedo-line. Keluar dari stasiun Ochaiminaminagasaki, dimulailah petualangan kami mencari-cari lokasi si apartemen. Ternyata... dia jauh! Ha! Tapi, bukannya istirahat, setelah mengamankan semua perintilan di dalam apartemen imut dan demi memenuhi itinerary ambisius, kami balik ke Shinjuku untuk mulai muter-muter. Sayangnya sampai di Shinjuku sudah terlalu malam dan sebagian besar toko sudah tutup, jadi aja kami benar-benar hanya muter-muter.

Hari kedua agenda kami adalah keliling Tokyo. Dimulai dari jalan-jalan pagi di Meiji-jingu, berburu sakura (dan cuma ketemu sama satu pohon) di Yoyogi-koen, jingkrak-jingkrak di depan kamera di gapura Takeshita-dori, terkagum-kagum sama Harajuku, ikut-ikutan nyebrang tengah hari bolong di Shibuya crossing, makan siang menjelang sore di Asakusa, naik-naik ke Tokyo Tower, sampai kena hujan badai di Akihabara. Itulah satu hari di Tokyo versi kami. Rasanya luar biasa seru!

Shibuya Crossing saat kosong

Hari ke tiga, saatnya sejenak meninggalkan Tokyo, tujuannya Kawaguchiko. Dari Shinjuku express bus terminal kami naik bis menuju ke stasiun Kawaguchiko. Dalam perjalanan kurang lebih 2.5 jam itu gue ditemani oleh Goose House dan pemandangan pedesaan Jepang yang cantiiik banget. Bunga sakura yang tidak kami temukan di Yoyogi ada di mana-mana. Di halaman setiap rumah diantara bukit-bukit menuju ke Kawaguchiko. Sampai di stasiun Kawaguchiko, agenda kami adalah mencari letak hostel. Ternyata dari stasiun kami masih harus jalan kaki kurang lebih 1.5 Km, so jadilah kami geret-geret koper lagi ;D Setelah itu, sesuai rekomendasi penjaga hostel, kami makan siang di resto lokal yang menu utamanya mie yang lebih gede dari udon. Berbekal semangkuk besar super udon dengan toping pilihan masing-masing (gue pilih kabocha), kami melanjutkan perjalanan menuju danau Kawaguchiko menggunakan bis pariwisata yang berhenti di tempat-tempat tertentu. Danau Kawaguchiko adalah pemberhantian terakhir. Sebenernya penjaga hostel kami yang ramah menyarankan agar kami jalan menyusuri danau, tapi berhubung waktunya sempit jadi aja kami keliling naik bis ;p Setelah perut kenyang dan puas melihat-lihat pemandangan, tujuan kami berikutnya adalah nyobain pemandian tradisional Jepang. Yups! Onsen!

Malem-malem di Kawaguchiko

Hari ke empat, tujuan kami adalah Kyoto. Tapi sebelumnya kami mampir dulu ke Gotenba. Dari stasiun Kawaguchiko, ada bus khusus yang mengantar para pelancong ke Gotenba. Gotenba ini ternyata macam mall dengan sederetan brand mewah tapi tempatnya outdoor. Sementara orang-orang sibuk belanja, gue sibuk mencari McD :D dari Gotenba kami naik kereta ke Odawara lalu nyambung Shinkansen menuju ke Kyoto (akhirnya naik shinkansen juga).

Hari kelima kami buka dengan berjalan-jalan di Kyoto Imperial Palace. Enggak kayak Palace2 yang selama ini gue kunjungi yang dipenuhi pelancong yang sibuk foto di sana sini, Kyoto Imperial Palace ini tertib dan teratur banget jadi aja kami bisa menikmati nuansa kerajaannya hahaha dari Imperial Palace kami naik bis menuju Gion. Tujuan selanjutnya adalah Kiyomizudera. Sesampainya di Gion kami langsung disuguhi pemandangan orang-orang berkimono. Seeeemua orang pake kimono, menyusuri bangunan yang cantik-cantik di Gion. Rasanya kayak ikutan jadi pemain ekstra di film Memoirs of a Geisha. Ga mau kalah, kami mencari toko rental kimono deket-deket Kiyomizudera so sisa setengah hari kami habiskan dalam kostum kimono naik turun tangga kuil, masuk ke pasar-pasar ;p

Kesibukan di salah satu sudut Gion

Hari ke enam kami masih di Kyoto. Kali ini tujuannya Arashiyama, Kinkaku, dan Fushimi inari. Cita-cita awalnya ke Arashiyama pengen liat bambu, tapi kenyataannya yang kelihatan hanya orang-orang yang pose di bawah hutan bambu T.T tujuan kedua kami sebenarnya adalah Kinkaku Jin alias pavilion emas, sayangnya ada sedikit miskom yang membuat kami akhirnya terdampar di Ginkaku alias silver pavilion. Dari Ginkaku kami naik bis kereta ke Fushimi Inari. Senangnya, kami sampai di sana ga lama sebelum golden hour. Begitu melihat jajaran gerbang oranye kemerahan, gue langsung kepengen mempraktekan salah satu scene di Memoirs of a Geisha dimana Chiyo-chan lari-lari kegirangan. Tapi kenyataannya kami kena macet karena semua orang sibuk foto ;p

Hari ke tujuh, waktunya dadah-dadah sama Kyoto dan melambai-lambai sama Nara (padahal nantinya mesti balik sebentar ke Kyoto). Nara, mantan ibu kota Jepang ini ga kalah cantik sama Kyoto. Sama cantiknya namun dengan nuansa yang berbeda. Dari stasiun Nara kami naik bis ke Nara Koen, tujuannya liat kijang (kayak di Bogor ga ada aja) dan mengunjungi kuil Budha paling besar di Jepang. Shika, kijang dalam bahasa Jepang, di Nara ternyata makan biskuit dan peta. Peta Nara gue ikutan dikunyahnya saat kami kehabisan biskuit. Dari stasiun Nara kami balik ke Kyoto untuk lanjut ke Osaka. Akhirnya, menjelang matahari terbenam kami sudah keliling-keliling Osaka. Keluar masuk toko di Sinshaibashi, nonton konser di tepian sungai Aji, terus makan malam di Doutonbori. Osaka benar-benar luar biasa.

Sedikit tentang Osaka. Selain Tokyo, salah satu kota yang paling pengen gue kunjungi saat ke Jepang adalah Osaka. Kenapa? karena itu adalah kampung halamannya Misa Amane hahahahaha

Osaka dari jendela apartemen

Hari ke delapan, kami dedikasikan untuk seharian main di Universal Studio Japan. Berbekal express pass, kami dadah-dadah sama antrian panjang menuju Hogward Castle. Secara kebetulan, 7 bulan sebelumnya gue mampir di peron 9 3/4 nya Kings Cross. Selama menunggu antrian wahana di dalam Hogward Castle, pengunjung disuguhi 'diskusi' para pendiri Hogward di frame foto masing-masing. Sayangnya penyihir-penyihir itu ngomong pake bahasa Jepang jadi aja gue enggak ngerti. Setelah Hogward kami berpusing-pusing di USJ yang gueedee. Banyak wahana yang menarik di sini, tapi peminatnya juga enggak kalah banyak. Satu wahana bahkan ada yang antriannya 3 jam sendiri.

Akhirnya sampe ke Hogward castle

Hari ke sembilan, waktunya kembali ke Tokyo. Kali ini kami didampingi oleh local guide yang enggak local-local amat alias mahasiswa setempat ;p Kurang sebenernya, tapi di waktu yang sempit ini kami berhasil nyobain kaiten sushi, foto-foto sama Hachikou, (akhirnya) belanja oleh-oleh, dan nyebrang lagi di Shibuya crossing (kali ini malam hari yeaay).

Hari ke sepuluh... sayangnya tujuan kami hanya satu... terminal internasionalnya Haneda T.T

Travel-mate paling keren
Sepanjang karir traveling gue, travel-mate kali ini bisa dibilang paling keren. Bukan berarti teman-teman traveling gue sebelumnya kurang keren yah, jujur mereka semua keren-keren, tapi kali ini kami bertiga adalah orang-orang (sok) sibuk yang butuh liburan jadi ajaa hawanya liburan kemana-mana hahahaha. Kerennya kami bisa memenuhi 80% dari target itinerary dan hampir nyaris selalu sesuai jadwal. Walaupun pulang ke apartemen sambil menyeret-nyeret kaki, paginya kami selalu semangat berangkat lagi. We've been through a lot mulai dari kena hujan badai di Akihabara sampai diusir dari Shinkansen kelas paling tinggi yang ga dicover sama JR pass ;p.  Tapi yang paling gue inget adalah jadwal tetap kami setiap malam mampir ke convinient strore untuk beli sarapan (roti plus susu).

Fangirl Bahagia
Bagaimana enggak bahagia kalau baru nyampe udah disuguhin senyum manisnya abang Ninomiya Kazunari (buat yang enggak tau, abang Nino ini membernya grup band Arashi), di pedesaan ketemu mesin penjual otomatis dengan mukanya mas ganteng Matsuyama Kenichi (Kenal donk, masa enggak kenal sama pemainnya L di Death Note ;p), dan menikmati kecepatan supernya Shinkansen sambil memandangi Fujiwara Tatsuya yang super cool (sebenernya dia jauh lebih keren pas jadi Light Yagami di film Death Note tapi kok yang kebanyang di otak gue muka unyu nya doi waktu jadi Fukase Kazuhisa di Reverse yah ;p). Enggak cuma disuguhi cowok-cowok ganteng di baliho segede gambreng, gue berhasil menyeret travel-mate untuk mengunggungi Tower Record di Shibuya. Toko CD yang terdiri dari 1 gedung ini benar-benar surga buat penikmat J-music.

Mukanya abang Nino di atas keramaian Osaka


So... itulah sedikit cerita selama kami berada di negri Sakura. Semakin diinget semakin kepengan balik ke sana lagi T.T













Rabu, 02 Oktober 2013

Ternyata Remang-remang



"Sudah pernah ke Kendari?" tanya mba yang duduk di samping gue di pesawat dari Makasar.
Gue yang saat itu masih mengumpulkan nyawa menjawab, "Belum"
" SEPI!" kata si mba lalu kembali asik mengobrol dengan ibunya yang duduk di sebelahnya meninggalkan gue yang masih loading karena masih setengah tidur.

Well... saat mendarat dan menghabiskan waktu seharian gue langsung setuju sama si mba di pesawat. Entah karena lokasi hotel kami atau kota Kendari memang relatif sepi. Ini merupakan dinas luar ke 4 sepanjang sejara berada di pusat baru. Beda banget rasanya ke daerah untuk koordinasi dan bimbingan teknis sama ke daerah untuk survei. Pertama, saat ke daerah untuk survei rasanya kami rugi bayar hotel soalnya cuman dipake untuk tidur yang biasanya ga lebih dari 5 jam. Sedangkan kalo untuk bimtek well... hotelnya yang rugi karena kami seharian berkegiatan di sana :)). Kedua, namanya juga survei ya pasti enggak bakal berkutat di tengah kota doang. Pastinya blusukan sampe tempat yang kayaknya enggak pernah ditemuin sama penulis-penulis traveling sekalipun. Kalo bimtek yah... pasinya berkutat di jalur airport-hotel :D

Lokasi bimtek kali ini di Kendari, hotel kami tepatnya di tepian teluk Kendari. Enggak ada pantainya karena teluk Kendari ini perairannya tenang banget jadinya tepiannya ditumbuhi banyak mangrove. Kalo mau ketemu pantai harus jalan sedikit lebih jauh, sekitar 1/2 jam sampai 1 jam. Menurut bapak supir dan bapak satpam hotel selasar depan hotel ramai kalo malam karena banyak warung tenda karena itu tim kami enggak kebingungan mikirin bagaimana mencari makan malam. 

Malam pertama kami makan coto makasar tepat di depan hotel. Sore hari ke 2 gue dan beberapa temen berjalan-jalan di selasar tepian mangrove. Kami foto-foto sekadarnya sambil mengamati warung-warung yang lagi siap-siap. Waktu makan malam kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang sedikit lebih jauh dengan harapan menemukan variasi makanan lain. Ternyata si warung-warung yang tadi sore disiapin itu bukan warung biasa. Itu semacam tempat karoke dengan lampu remang-remang warna-warni dan layar proyektor segede sentrongan ruang rapat plus musik dari band masa kini yang lagunya enggak gue kenal sama sekali. Si Pakabid dengan polosnya nyeletuk, " Kalo gelap gini gimana makannya? emang ketauan kita makan apa?" 

Sambil ngakak-ngakak kami akhirnya kembali ke warung coto Makasar yang terang benderang dan jelas apa yang kami masukan ke dalam mulut :D

Yes, I am a lucky girl


Diantara naik dan turun, diantara gunung dan laut, diantara tumpukan dokumen dan berbagai presentasi didepan wajah-wajah asing. Diantara bemacam-macam orang yang belakangan ini gue temukan, yang tingkah lakunya bikin gue bengong, shock sampe angguk-angguk. Diantara tangis dan tawa. Dapat disimpulkan bahwa: yes, I am a lucky girl.

Beruntung karena dikasih kesempetan untuk bertemu berbagai jenis orang. Beruntung karena dilibatkan di ruang-ruang yang mendiskusikan berbagai mimpi masa depan. Beruntung karena dipaksa menjadi kuat menghadapi segala benturan. Dan merasa sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang seperti kalian. Kakak-kakak dan adik mantan gedung I yang saling mendukung walau kita semua udah disebar ke seluruh penjuru komplek kantor yang cuman segitu-segitunya :D cerita2 perjuangan kalian yang bikin semua masalah gue mendadak enggak ada apa-apanya. Dan my dearest geo'04 kalian mungkin enggak tau tapi pesan-pesan kalian yang kadang penting kadang ga penting di grup WA berkali-kali menyelamatkan gue. Bikin ketawa saat hampir nangis. Bikin inget cita-cita saat (seringnya) hampir menyerah. Bikin gue punya tujuan dan inget kalo ada alasan kenapa gue berada di tempat itu. yes I'm a very lucky girl to know such a family like you guys ^.^v

I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make

Minggu, 21 April 2013

DITOLAK!

Bukan ditolak sama profesor ganteng, bukan ditolak sama lab yang terlalu canggih, bukan ditolak sama negara asing karena terlalu oon untuk memahami bahasa sehari-hari yang mereka pakai maupun bahasa akademis untuk menambah ilmu, bukan ditolak sama bos2 gue yang baik2.

Tapi ditolak sama sistem birokrasi.

Mau tau rasanya kayak apa?

Kayak muridnya Eyang Subur yang gebrak2 meja sampe bikin bumi gonjang-ganjing,
Kayak pengen nyuapin sendal jepit butut gue ke mulut entah siapa,
Kayak pengen terbang terus ngebakar-bakar kota (emangnya Smaug?!)

Dan apa gue mau berhenti hanya karena ditolak sistem yang paling gue benci di muka bumi ini?

Maaf ya, tapi ENGGAK AKAN!